Jumat, 22 Januari 2010

Rasa Ini - Vierra



Ku tak percaya kau ada di sini
Menemaniku di saat dia pergi
Sungguh bahagia kau ada di sini
Menghapus semua sakit yang kurasa

*
Mungkinkah kau merasakan
Semua yang ku pasrahkan
Kenanglah kasih..

Reff :
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini

Na nana nanana nana nanana

Back to *, Reff
lihat cerpenku di cerpen.net

Sabtu, 09 Januari 2010

Pemuja Rahasiaku Bikin Stress!

Satu senyum darimu dapat hadirkan sejuta bahagia untukku karena semangatku tercipta dari senyummu. By Pemuja Rahasiamu.
Lagi-lagi Sila mendapatkan puisi indah dalam secarik kertas yang diselipkan dalam tasnya.
"Orang ini siapa sih? Kurang kerjaan banget nggak capek apa ciptain puisi untuk aku plus bikin aku penasaran melulu" ketus Sila dalam hati.
Setiap malam sebelum tidur dia harus diliputi rasa penasaran akan pemuja rahasianya dan membulatkan tekadnya untuk cari tahu sebelum keburu mati penasaran nggak ke langit nggak ke tanah bergaun putih terkatung-katung di udara, ketawa kayak nenek lampir. Lamunannya yang aneh menutup aktifitasnya untuk hari ini membawanya dalam tidur nyenyak.
Matahari bersinar cerah menemani harinya menuju sekolah. Penampilannya begitu perfect, satu hal yang membuat orang tak bisa lupa ma dia karena memiliki senyum yang maniezt dan wajahnya yg imoet membuat orang yang melihat gemes.
"Non! Ada cerita apalagi yang lo bawa dari rumah? Btw dapat puisi apalagi nich kemarin?" tanya Irva penuh penasaran.
"Nih aku dapat puisi lagi kemarin tapi aku dah mau cari tahu tu puisi dari siapa. Mau bantuin nggak?"
"Yupz gw ikut bantuin. Siapa tau aja pemuja rahasia lo itu penunggu kelas ini!" cerocos Irva sambil cekikikan sendiri.
"Km itu mau bantuin atau cuma mau ngejek aja. Nggak lucu kalie dapat pemuja rahasia yang ternyata hantu kesasar nggak tahu mana pintu akherat mana pintu kelas" balas Sila yang cerewetnya minta ampun.
Sepanjang hari Sila cuma mengawasi tasnya dari kejauhan siapa tahu bisa ketemu ma si pemuja rahasia. Tiba-tiba Sila dan Irva kaget ketika melihat cleaning servis sekolahnya yg udah tua tp sok ganteng itu menghampiri tas Sila dan menaruh secarik kertas. Melihat hal itu Irva tak dpt menahan tawa lagi sebaliknya Sila memasang muka yang paling masam yang pernah dilihat Irva dan hanya menambah cekikikan sahabatnya itu. Mereka berdua pun segera ke kantin.
"Gw salut ma lo Sil aki-aki aja kLEPek-kelepek ma lo!" ejek Irva.
"Udah dech nggak usah bahas masalah itu. Padahal aku kira yang nulis tu puisi Gabriel kek si jago basket yang jadi pujaan siswi-siswi di sekolah ini atau nggak si Randi ketua osis yang super keren eh malah dapat aki-aki"
Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, mereka segera ke kelas untuk membaca puisi yang ada dalam tas Sila.
Senandung malam ini sangat menyenangkan. Lantunan musik mengiringi hari, pengganti sang kasih menanti hari indah menggapai semua mimpi. Ku pandangi langit malam menatap bintang namun hanya senyum diwajahmu yang membuat malam ini kan terus indah. Terima kasih telah memikirkanku tiap malam. By Pemuja Rahasiamu
Rasa kesal dihati Sila semakin menjadi-jadi. Yang ada dipikirannya sejuta makian untuk si aki-aki.
"Ir ntar temani aku nemuin tu aki-aki."
"Namanya Mang Darmo, Sil."
"Mo siapa kek namanya yang jelas ntar aku mau maki-maki dia."
Bel sekolah berbunyi menandakan usai sudah pelajaran untuk hari ini. Sila dan Irva segera menemui Mang Darmo sebelum dia pulang.
"Mang Darmo apa-apaan sih pakai acara ngasih aku puisi-puisi cinta?! Nggak liat umur banget"
"Non ini kenapa? Mang Darmo kagak pernah atuh neng kirim puisi buat neng Sila, kan dah ada anak bininya Mang Darmo."
"Trus ngapain Mang Darmo naruh sesuatu di tasnya aku?"
"Ooo...Yg itu toh, itu bukan dari Mang Darmo!" tiba-tiba ada suara nyerocos dari belakang.
Kaget bukan kepalang ternyata yang bicara itu Gabriel si jago basket sekolah yg jg salah satu pujaan Sila.
"Gabriel..! Sejak kapan disitu?"
"Dari tadi dengerin nona cantik ngomel-ngomel."
Pipi Sila langsung memerah dapat pujian dari cowok terpopuler.
"Kok bengong Sil?"
"ah...Nggak..Yang naroh puisi itu kamu ya?"
"Iii..Jangan GR dulu, bukan aku kali yang buatin km puisi!"
Sila nampak kecewa padahal dah terlanjur senang.
"Mungkin belum saatnya kamu untuk tahu Pemuja Rahasia kamu itu siapa!"
Makin penasaran aja Sila sejak kejadian sepulang sekolah tadi. Sampai di rumah dia hanya mengurung diri di kamar menebak-nebak siapa pemuja rahasianya itu. Tiba-tiba ibunya memanggil.
"Sil ada kiriman bunga untuk km! Ibu taruh di kamar km."
"Dimana Ma? Silanya nggak liat."
"Ada di meja belajar km."
"Iya ma dah ketemu."
Dgn perasaan deg-degan Sila membuka pesan yang ada dalam amplop bunga tersebut.
Aku rasa sudah saatnya km tahu aku siapa sebelum kamu nuduh orang lagi. Aku tunggu kamu di taman jam 5 sore dan aku harap kamu nggak kecewa setelah ngeliat aku. Harus datang ya!
Ternyata ibunya telat memberi tahu Sila skrang dah hampir jam 5, dia pun segera bersiap-siap utk ketemu si pemuja rahasianya itu.
Dari tadi Sila mencari-cari org yg menurutnya adalah si pemuja rahasianya tp tak ada satupun yg nyamperin.
Sila tersentak kaget ketika ada yg menepuk bahunya dari belakang.
"Hey Sil! Dah lama nunggu ya?"
"K..Km yah yang selalu ngirimin aku puisi?"
"Iya ini aku, si pemuja rahasiamu."
Sila kagum dengan sosok cute di depannya itu, melebihi Gabriel dan Randi. Sila tersadar trus dari mana org ini bisa tahu ma dia apalagi semenjak sekolah dia belum pernah ngeliat orang ini.
"Btw kita pernah ketemu dimana? Secara kayaknya kita nggak satu sekolahan trus bisa nebak seluruh kegiatan aku."
"Km emg nggak pernah liat aku secara cuma sore ini aku bisa nampakin diri"
"Mksd km?"
Sila melongo mendengar jawaban dari si pemujanya itu dan lebih herannya lg ketika dia menatap org yg di depannya itu, kakinya ngamban nggak nyentuh tanah.
"Ha..Ha..Hantu!"
Bruuuuk.. Tubuh Sila jatuh dr ranjangnya.
"Aduh..Sakit!" keluh Sila sambil memegang bokongnya yg sakit.
"Huff..Cuma mimpi..Aaaa...Telat!"

Jumat, 08 Januari 2010

Belajar Tentang cinta

MAMA mau bercerita untukku?” ”Tentang apa?” ”Soal cin… ta…,” ragu-ragu.
Pertanyaan Rosa sudah berulang dia lontarkan. Tetapi, ya tetapi, selalu saja Mama menjawab dengan pertanyaan pula. Sebel deh, batin Rosa. Sebenarnya Rosa ingin sekali mendengar pandangan dan sikap Mama tentang cinta. Ia menginginkan Mama tak perlu malu lagi bercerita soal cinta. Cinta bukan lagi tabu dibicarakan, diungkapkan, diceritakan. Apalagi usia Rosa kini sudah 16 tahun lebih 16 hari.
Mama menatap nanap pada Rosa. Rosa membalas tatapan Mama. Dalam hatinya ia tak hendak menunduk ditujah oleh pandangan Mama yang tampak menyelidik itu. Saat ia harus ”melawan” pandangan Mama. Tidak seperti sudah-sudah, mendengar orang yang tua usia darinya bicara tentang cinta, ia malu-malu. Seakan tabu.
”Mama mau bercerita untukku?”
”Tentang apa?”
”Ya, seperti kataku tadi. Cinta.”
”Untuk apa? Pentingnya apa buatmu? Apa manfaatnya kalaupun kau tahu tentang cinta?” Mama kembali mengumbar pertanyaan. Bertubi-tubi.
Ah, Mama. Rosa menggumam. ”Jelas ada dong, Ma. Kalau tak ada manfaatnya, kalau tak penting. Untuk apa Rosa tanya sama Mama?”
Hmmm. Mama diam. Untuk beberapa kejap lamanya. Zaman sudah sangat jauh berbeda dibanding sewaktu ia masih remaja dulu. Kini, anak seusia 16 tahun seperti Rosa, ingin mengetahui soal cinta. Langsung dari Mamanya.
”Tuh, kan Mama, selalu saja begitu…” Rosa agak merengek.
”Ya, habis pertanyaanmu aneh sih?” kata Mama yang selalu akhir ucapannya ditekankan dengan pertanyaan.
”Lo, memangnya kenapa Mama? Apa yang aneh, pertanyaan Rosa jelas kok.”
”Jelas menurutmu. Tetapi, menurut Mama kan aneh,” jawab Mama. Mama bayangkan sudah begitu majukah anak remaja sekarang? Sudah begitu beranikah remaja sekarang, seingga ia harus mempertanyakan soal cinta. Langsung pada orang tuanya?
Cinta. Mama sulit merumuskan, menuliskan, mengucapkannya dengan runtut dan rinci. Apa itu cinta? Dari banyak buku atau tulisan yang pernah Mama baca menyoal cinta, beragam pendapat jadinya. Semuanya berbeda. Semua bisa saja benar, bisa saja tidak begitu tepat.
Cinta dalam pengertian yang mana yang diinginkan Rosa? Cinta antarlain jenis: perempuan dan lelaki? Cinta dalam makna luas? Ah, Mama jadi dibuat pusing. Ya. Seandainya Papa masih bersama mereka, mungkin pertanyaan ini bisa diberitakan padanya dan Papa yang mungkin bisa menjawab.
Cuma Papa sudah tidak bersama mereka lagi. Mama bercerai dengan Papa sewaktu Rosa baru masuk kelas 1 SLTP. Papa diam-diam menikah lagi, dan Mama tak mau hidup dimadu. Akhirnya Mama minta dicerai, dan Rosa dibawa Mama. Sampai kini Mama tak menikah lagi. Hidup bersama Rosa. Untung Mama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bergolongan gaji cukup bagus.
Lalu, cinta dalam pengertian yang mana? ”Ah, Mama sulit menjawabnya, Rosa. Kalau Mama bisa, pasti akan Mama jawab. Lagi pula belum waktunya kamu bicar soal cinta…”
”Ah, Mama kuno. Kuno…,” Rosa merajuk.
”Apa orang yang tahu soal cinta, berarti modern? Apa orang yang hidupnya bebas adalah modern, sedang yang hidup dalam batas kewajaran kuno?” Mama bertanya.
Rosa gelagapan. Ia tak mengira pertanyaan Mama seperti itu. Tanpa menjawab, ia melengos, melangkah, dan masuk ke kamar tidurnya.

***
SEJAK tujuh bulan terakhir ini, Rosa berubah amat drastis. Mama memperhatikan perubahan pada diri Rosa. Gadis itu kerap berlama-lama di depan cermin. Memoles bibirnya dengan lipstik, menebalkan bulu alis dengan pinsil hitam, pakai wangi-wangian. Mama juga sempat mendapatkan celana panjang dan baju di dalam tas sekolahnya. Yang paling mencolok, Rosa punya handphone. Soal benda yang stau ini, Mama merasa tidak membelikannya. Dan, ketika Mama tanya dari mana ia dapat handphone itu, Rosa menjawab enteng: ”Uang tabungan Rosa dari jajan yang dikasih Mama…”
Rosa tumbuh dengan tubuh amat subur. Sangat pas dengan wajahnya yang memang cantik. Seperti Mama waktu remaja dulu. Yang membedakan Rosa dengan Mama semasa remaja, Mama mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayah. Ah, Rosa memiliki tubuh sebagai gadis remaja yang tidak memeroleh sentuhan itu dari Papa. Ia tumbuh menjadi remaja tanpa mendengar dan belaian tangan penuh kasih sayang dari sang Papa. Ia tumbuh dalam dekapan Mama. Ya, Mama. Mama yang supersibuk oleh pekerjaan-pekerjaan di kantornya. Sibuk sebagai kepala bagian di tempat kerjanya.
Dan, Rosa kadang hanya berdiskusi dengan Bik Iyah, pembantu yang bekerja di rumahnya sejak ia berusia enam tahun. Bi Iyah yang tak bisa diajak ngomong soal banyak hal. Tahunya hanya memanggil ”Oca sini, yuk emam.” Atau hal-hal yang sangat sepele.
Setelah kelas satu SMU, Rosa baru melihat dunia ini begitu luas. Seperti burung yang baru bisa terbang, ia mengepakkan sayapnya ke mana ia mau. Sayapnya mengepak bebas. Dan kembali ke sarang, ketika matahari terkadang telah tergelincir di Barat. Di rumah ia tak mendapatkan Mama menyambutnya. Mama akan kembali setelah jam 20.00. Lalu makan, lalu mandi air hangat, lalu bekerja lagi. Atau kalau kelelahan amat sangat, ia langsung menuju pembaringannya. Terlelap.
Padahal, Rosa ingin sekali mendapat sapaan dari Mama. Pertanyaan, misalnya, soal pelajarannya di sekolah. Soal keperluan apa yang diperlukan Rosa. Pendek kata, soal apa saja. Bahkan soal yang kadang sangat sepele dan ringan. Rosa ingin sekali itu. Bukan sapaan Bik Iyah yang cuma basa-basi terdengar di telanganya. Tak lebih pertanyaan seorang pekerja.
Kalau kini Rosa bertanya soal cinta, sepantasnyakah itu? Apakah pertanyaan itu hanya ingin menjebak Mama? Mama selalu berpikir egois. Mama pasti tahu tentang cinta, Rosa membatin, hanya Mama tak mau menceritakan. Mama seperti takut kalau pertanyaan itu akan mengusik perkawinannya. Ah, Mama. Ah…
Ceritakan padaku soal cinta, Mama. Soal kasih sayang. Apakah cinta, apakah kasih sayang itu? Apakah cinta itu seperti yang dilakukan Om Indra selama ini pada Rosa? Membelikan handphone, mengajak jalan-jalan ke pantai, ke bungalow, ke supermarket, makan di restoran mewah, masuk ke hotel, membelikan pakaian bagus-bagus dan berharga mahal?
Apakah kasih sayang itu, seperti ditunjukkan Om Indra di atas sedan mewahnya dengan membelai-belai rambutnya? Mencurahkan perhatian yang amat lebih padanya? Menjemput di ujung jalan setiap ia pulang sekolah, untuk kemudian membawanya jalan-jalan sepanjang siang hingga matahari tergelincir? Menelepon Rosa ke telepon genggamnya setiap hendak tidur setiap malam?
Sampai suatu kesempatan, Mama menjelaskan tentang cinta. Kata Mama, cinta adalah ketika seseorang memberikan sesuatu atau lebih kepada orang lain tanpa pamrih. Cinta adalah pengorbanan yang tulus, tiada harap apa-apa dari perbuatan itu. Cinta adalah sesuat yang memberi dan menerima dengan didasari oleh keikhlasan. ”Jadi, cinta itu keluar dari hati nurani yang suci,” kata Mama.
Sedangkan kasih sayang? ”Mama kira hampir sama, mungkin hanya bentuk atau wujudnya saja yang boleh saja berbeda. Tetapi, cukuplah itu saja, cerita tentang cinta dari Mama. Sebab, Mama tak banyak tahu, Mama bukan seorang pencerita soal cinta atau kasih sayang. Mama dan Papa sendiri gagal membangun dan menjaga cinta,” kata Mama pelan, pelan sekali.
Lalu, apakah hubungannya dengan Om Indra selama ini, bisa dikatakan cinta? Bisa diartikan kasih sayang? Om Indra terlalu banyak berkorban pada Rosa, dan tidak meminta balasan apa-apa. Kalau ia mau diajak ke berbagai tempat itu, karena senang dan karena butuh cinta dan kasih sayang itu.
Kalau Rosa kini sulit merumuskan soal cinta dan kasih sayang itu, karena cinta di zaman serbamodern ini seakan menjadi abu-abu. Kekerasan ada di mana-mana. Pembantaian terjadi hampir setiap hari. Masyarakat sipil tewas ditembak oleh tentara. Rakyat miskin makin bertambah setiap detik, sementara para pejabat asyik menyantap dari kekayaannya.
Sekejap kemudian, telepon genggamnya yang ada di dalam celana panjangnya bergetar. Ia ambil dan membaca tulisan di layar: SMS dari Om Indra, ”Om udah nunggu nih di tempat biasa, jadi kan sayang?”
Rosa memandang Mama. Di mata Mama ia seperti membaca bahwa Mama mencurigainya. ”Mau ke mana?”
”Belajar….”
”Kenapa tak di rumah saja?”
ìBete, Ma…”
Segera mengambil tas. Mengecup pipi Mama, kanan dan kiri. Melambai. Bagai burung, ia kepakkan sayapnya begitu berlalu dari ambang pintu. Memburu Om Indra yang tengah menanti. Belajar tentang cinta…*

Lampung, November 2002

Vidi Aldiano – Status Palsu



Separuh hati denganmu
Ku jalani cintaku
Berusaha ’tuk jadi kekasih
Aku menipu dirimu

Ku bilang cinta padamu
Tapi dariku itu yang terbaik
Kau bukan pilihan
Karna ku tak sedikitpun hasratku padamu

Reff :
Terpaksa aku mencintai dirimu
Hanya untuk status palsu
Setengah hati ku jalani cinta
Karena aku tak suka denganmu

Ku berikan cintaku
Meski tak stulus hatiku
Ku harapkan engkau tak pernah tahu
Rasa cintaku padamu hanya dibibir saja
Tak sedikitpun hati bicara

Semoga selama ini
Kau tak tahu bahwa sesungguhnya
Aku tak mencinta

Back to Reff

Jika aku bisa menjadi lelaki
Pujaan yang selalu engkau impikan

Back to Reff:

Jika Cinta Dia - Geisha


Terlampau sering kau buat air mataku
Tak pernah kau tahu dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Ku bukan manusia yang tidak berfikir
Berulang kali kau lakukan itu padaku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Reff:
Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti

Teramat sering kau membuat patah hatiku
Kau datang padanya tak pernah kutahu
Kau tinggalkan aku disaat ku butuh kan mu
Cinta tak begini selama ku tahu
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu

*
Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati dihidupku

Back to * 2x

Kini Kau Pergi



Sayang.....
Disaat ku membutuhkanmu
Mengapa engkau tega pergi jauh dariku
Disini ku benar-benar merasa sepi
Benar-benar sendiri

Entah mengapa hatiku selalu gelisah
Ku selalu memikirkan mu
Ku selalu merindukan mu
Tiada lagi yang dapat ku katakan

Ku benar-benar mencintai mu

Kasih... janganlah kau pergi dariku
Ku harap kau bisa mengerti smua isi hatiku
Disini, ditempat ini
Kan ku tunggu kehadiranmu lagi